Perjalanan Jauh dari Serang Berakhir Mengecewakan
BEKASI – Feisal (21) tidak pernah membayangkan perjalanan panjangnya dari Serang menuju Cikarang berakhir dengan pengalaman yang begitu pahit. Ia berharap mendapat peluang kerja baru, namun justru menemukan kenyataan pahit: panggilan wawancara yang ia terima ternyata fiktif.
Pada Kamis (20/11/2025) malam, Feisal duduk termenung di taman depan Stasiun Cikarang. Ia memikirkan kejadian yang baru saja menimpanya sambil sesekali berbicara dengan dua kawan baru yang ia temui di sana, Raka (19) dan Sarif (19). Suasana malam yang semula ia bayangkan sebagai awal masa depan baru justru berubah menjadi malam penuh kebingungan.
Panggilan Wawancara Kerja Ternyata Fiktif
Feisal bercerita bahwa ia melamar pekerjaan sebagai operator produksi di sebuah pabrik Cikarang. Ia menemukan iklan lowongan tersebut melalui media sosial. Setelah beberapa pekan menunggu, ia menerima pesan panggilan wawancara yang dijadwalkan sehari setelah kedatangannya.
Baca juga: Momen Jokowi Duduk Sebelahan dengan Mike Bloomberg Saat Gala Dinner
Empat hari sebelum keberangkatan, ia menerima pesan resmi berisi instruksi wawancara untuk Jumat (21/11/2025). Karena jarak dari rumahnya cukup jauh, ia memutuskan berangkat lebih awal pada Kamis sore.
“Saya berangkat dari Serang ke Rangkasbitung, dari sana ke Tanah Abang, lanjut ke Cikarang. Semua nyambung pakai kereta,” ujar Feisal. “Sampai di sini, saya baru sadar saya kena tipu.”
Nomor Penghubung Memblokir Kontak Feisal
Sesampainya di Cikarang sekitar pukul 18.30 WIB, Feisal langsung mencoba menghubungi nomor yang mengirim panggilan wawancara. Namun pesan-pesannya tak kunjung mendapat balasan.
“Tahunya pas sampai sini, saya hubungi kontak penghubung buat wawancara, tapi tidak dibalas. Ternyata nomor saya sudah di-block. Gagal wawancara, saya bingung karena tidak punya kenalan di sini. Akhirnya saya terpaksa menginap,” jelasnya.
Sekitar pukul 20.00 WIB, Feisal benar-benar memahami bahwa ia menjadi korban penipuan lowongan kerja. Ia mengaku sempat panik dan terpukul dengan situasi tersebut.
Feisal Kehilangan Kesempatan Pulang dan Memilih Bertahan di Stasiun
“Jujur saya shock,” kata Feisal. “Karena masih kepikiran, saya hampir ketinggalan kereta terakhir ke Rangkas. Saya takut tidak kebagian kereta lagi kalau tetap pulang dari sini. Akhirnya saya memutuskan menginap. Besok pagi saya pulang pakai kereta pertama.”
Baca juga: Indonesia Kini Punya Sekolah Tinggi Agama Khonghucu Negeri, Ini Lokasinya
Feisal mengaku kondisi ini cukup berat baginya. Ia baru saja keluar dari pekerjaan sebelumnya sebagai tenaga administrasi di Serang dan berharap bisa kembali bekerja di industri. Ia juga menyimpan pengalaman tiga tahun magang di Kota Gifu, Jepang, pada perusahaan mebel, sehingga ia optimistis bisa menemukan pekerjaan baru.
Namun penipuan tersebut membuatnya kembali berada pada titik sulit.
Bertemu Dua Pemuda Lain yang Juga Menginap
Setelah menyadari situasinya, Feisal memutuskan duduk cukup lama di ruang tunggu lantai II Stasiun Cikarang. Saat itulah ia bertemu Raka dan Sarif, dua pemuda yang juga terpaksa menginap di stasiun karena kehabisan kereta menuju Cikampek.
Percakapan mereka sedikit mengurangi beban pikiran Feisal. Ketiganya saling berbagi cerita tentang perjalanan masing-masing dan rencana pulang ke daerah asal keesokan paginya.






