Bekasi – Karmin dan Simpen adalah pasangan suami istri yang telah tinggal selama lebih dari dua dekade di dasar sebuah jurang yang dalam di kawasan hutan di Kabupaten Mojokerto.
Hidup mereka jauh dari peradaban, dengan akses terbatas dan perjuangan berat setiap harinya.
Namun, meski hidup di tengah keterbatasan, keduanya tetap bertahan, menjalani kehidupan yang penuh makna, dan bahkan mendapatkan perhatian luas dari masyarakat.
Perjalanan Hidup yang Tidak Biasa
Kisah Karmin dan Simpen berawal lebih dari 22 tahun lalu. Saat itu, mereka memutuskan untuk meninggalkan kehidupan yang biasa mereka jalani di desa dan mencari ketenangan hidup di tempat yang lebih sepi, jauh dari keramaian kota. Mereka memilih sebuah jurang yang terletak di kawasan hutan di Kecamatan Trawas, Mojokerto, yang selama ini jarang dijamah manusia.
Keputusan tersebut muncul setelah mereka merasa lelah dengan kehidupan yang penuh hiruk-pikuk di desa mereka. Mereka ingin hidup lebih sederhana, jauh dari kebisingan dan kesulitan hidup di masyarakat yang kerap memberi tekanan. Tanpa modal banyak dan hanya mengandalkan keterampilan bertani serta alam sekitar, Karmin dan Simpen memulai hidup baru di dasar jurang yang hanya dapat diakses melalui jalur yang terjal dan curam.
“Dulu kami tinggal di desa, tapi hidup kami penuh dengan tekanan. Kami merasa lebih tenang hidup di sini. Memang sulit, tapi kami merasa lebih bebas dan dekat dengan alam,” kata Karmin saat diwawancarai tim media yang mengunjungi tempat tinggal mereka.
Keadaan di Dasar Jurang: Menghadapi Tantangan Alam

Baca Juga : Kala Jokowi Tepis soal Resmikan Bandara IMIP di Morowali
Karmin dan Simpen tidak tinggal di rumah seperti kebanyakan orang. Mereka hidup di sebuah gubuk sederhana yang terbuat dari bahan-bahan alami yang mereka dapatkan dari sekitar hutan. Gubuk tersebut berukuran kecil, cukup untuk menampung mereka berdua dan beberapa hewan ternak yang mereka pelihara.
Selama dua dekade lebih, kehidupan mereka bergantung sepenuhnya pada alam sekitar. Untuk bertahan hidup, Karmin dan Simpen mengandalkan hasil pertanian dan perkebunan yang mereka kelola dengan cara tradisional. Mereka menanam berbagai tanaman, seperti jagung, sayuran, dan buah-buahan, yang menjadi sumber makanan utama mereka. Selain itu, mereka juga beternak kambing dan ayam yang mereka pelihara untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Namun, kehidupan di dasar jurang tidaklah mudah. Akses yang sulit menuju desa terdekat menjadi tantangan besar bagi mereka. Setiap kali mereka membutuhkan bahan pokok atau keperluan medis, mereka harus berjalan jauh melewati medan yang terjal dan berbatu. Kadang-kadang, mereka juga terpaksa mengandalkan bantuan dari tetangga atau masyarakat sekitar yang membawa barang-barang ke tempat tinggal mereka.
Simpen, yang sudah lebih berusia lanjut, mengungkapkan bahwa medan yang harus mereka tempuh untuk mendapatkan kebutuhan hidup sangat berat. “Pernah beberapa kali kami terjebak hujan, dan kami harus berjuang lebih keras lagi untuk bisa sampai ke desa. Kami hanya punya satu jalan menuju ke luar jurang, dan itu pun kadang sangat berbahaya,” ungkap Simpen dengan nada tenang, meski mengingatkan kesulitan yang mereka hadapi.
Kehidupan yang Penuh Makna di Tengah Keterbatasan
Meski hidup di bawah standar, Karmin dan Simpen merasa puas dan bahagia dengan cara hidup yang mereka pilih. Tidak ada hiruk-pikuk, tidak ada tuntutan sosial, hanya ada kedamaian dan kebersamaan di tengah alam. Mereka berdua saling mendukung satu sama lain, berbagi tugas dan tanggung jawab, serta menjalani hari-hari mereka dengan penuh rasa syukur.
“Yang kami butuhkan hanya kedamaian. Tidak perlu banyak harta atau kekayaan. Yang penting kami bisa makan dengan cukup, bisa merawat tanaman dan ternak kami, serta sehat,” ujar Karmin, yang tampak sangat bersyukur meskipun kehidupannya jauh dari kenyamanan.
Karmin dan Simpen juga sangat dekat dengan alam. Mereka selalu merasa bahwa alam adalah sahabat mereka yang terbaik. Mereka menjaga hutan sekitar dengan penuh kasih sayang, merawatnya agar tetap lestari. Mereka menanam pohon-pohon, menjaga sumber air, dan selalu memastikan bahwa mereka tidak merusak keseimbangan alam.
“Alam ini adalah anugerah. Kami berusaha untuk tidak menyalahgunakan alam. Kami hanya mengambil apa yang kami butuhkan. Kami merasa alam memberikan segalanya bagi kami,” kata Simpen dengan penuh penghormatan.
Mendapatkan Perhatian dari Pemerintah dan Masyarakat
Kisah hidup Karmin dan Simpen yang unik ini akhirnya menarik perhatian masyarakat luas, terutama setelah seorang jurnalis dari media lokal melakukan liputan tentang kehidupan mereka. Berita tentang pasangan suami istri yang telah menghabiskan 22 tahun di dasar jurang itu menyebar cepat di media sosial dan mendapatkan banyak respon positif dari masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Mojokerto pun mulai memberi perhatian lebih kepada mereka. Bupati Mojokerto, Siti Aminah, mengunjungi Karmin dan Simpen di tempat tinggal mereka untuk memberikan bantuan dan menyampaikan apresiasi atas ketahanan hidup mereka.
“Kisah hidup Karmin dan Simpen menginspirasi kita semua. Mereka mengajarkan kita arti keteguhan, kesederhanaan, dan cinta terhadap alam. Kami di Pemerintah Kabupaten Mojokerto merasa bangga dengan mereka. Kami akan memberikan perhatian lebih untuk memastikan mereka mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan,” ujar Bupati Siti Aminah saat mengunjungi Karmin dan Simpen.
Sebagai bentuk penghargaan, pemerintah juga berencana memberikan bantuan infrastruktur sederhana seperti jalan setapak yang lebih aman, serta fasilitas kesehatan untuk memastikan mereka tidak kesulitan jika membutuhkan perawatan medis.
Kisah Inspiratif tentang Kehidupan Sederhana
Kisah Karmin dan Simpen memberikan banyak pelajaran berharga, tidak hanya tentang ketahanan hidup, tetapi juga tentang keberanian memilih jalan hidup yang berbeda. Mereka membuktikan bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari materi atau kekayaan, melainkan dari kedamaian batin dan kedekatan dengan alam.
Masyarakat sekitar juga merasa terinspirasi oleh perjuangan hidup pasangan ini. Lina, seorang warga desa yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal Karmin dan Simpen, mengungkapkan rasa kagumnya terhadap pasangan tersebut. “Saya sangat terinspirasi oleh mereka. Mereka menunjukkan bahwa hidup sederhana itu bukan berarti hidup kekurangan. Mereka bisa bahagia meskipun tidak memiliki banyak harta,” ujar Lina.
Kisah mereka juga mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Karmin dan Simpen telah membuktikan bahwa hidup berdampingan dengan alam dan menjaga kelestariannya bisa menjadi cara yang sangat memuaskan untuk menjalani hidup.
Masa Depan yang Penuh Harapan
Walaupun sudah 22 tahun tinggal di dasar jurang, Karmin dan Simpen tetap optimis tentang masa depan mereka. Mereka berharap bisa terus hidup dengan tenang dan sehat di tempat yang mereka cintai. Dengan bantuan yang mulai diberikan oleh pemerintah dan perhatian dari masyarakat, mereka percaya bahwa hidup mereka akan semakin baik meski tetap sederhana.
“Kami bersyukur ada perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Kami tidak menginginkan kehidupan mewah, yang kami inginkan hanya kebahagiaan, kesehatan, dan kedamaian. Semoga kami bisa terus hidup seperti ini,” tutup Karmin dengan senyum di wajahnya, penuh ketenangan.
Karmin dan Simpen adalah contoh nyata dari kehidupan sederhana yang penuh makna. Mereka menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu terletak pada harta benda, tetapi pada kedamaian hati dan keberanian untuk memilih hidup yang sesuai dengan hati nurani.
Kisah mereka menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih menghargai alam, hidup lebih sederhana, dan mensyukuri setiap langkah kecil yang kita ambil dalam hidup.






